Soal Psikotes – Ujian Masuk 64

PSIKOTES

M. FAKHRURROZI, M.Psi

A.PERAN KLINISI

Dalam asesmen adalah untuk menjawab

pertanyaan yang spesifik dan membuat

keputusan yang relevan.

Klinisi harus mengintegrasikan berbagai macam

data dan memfokuskan dari berbagai informasi

yang diperoleh.

Ada perbedaan antara psikometri dengan

asesmen psikologi:

a.Psikometri

Cenderung menggunakan tes hanya

untuk mendapatkan data.

Biasanya lebih mengarahkan pada

kegiatan-kegiatan yang berhubungan

dengan aspek teknis dari suatu tes misal:

konstruksi alat tes.

Pendekatannya = data oriented.

Hasil akhir berupa serangkaian

desikripsi kemampuan individu dan deskripsi

1Tes tidak terstruktur memberikan kebebasan

testee dan kepastian tugas dari tes, misal:

soal essay, tes projektif (TAT, Ro, Hand Test,

dsb). Lebih sulit diskor dan diinterpretasi.

Tes terstruktur biasa disebut juga tes

objektif, misal: tes benar-salah, tes pilihan

ganda, tes IQ, dsb.

4.SELF-REPORT TEST

Testee mendeskripsikan dirinya misalnya

memberikan cheklist pada sejumlah

pernyataan, RMIB, SSCT, EPPS, dsb.

5.TES PERFORMANCE KEPRIBADIAN

Testee menunjukkan penampilan

kepribadiannya, misal: tes projeksi (TAT, Ro,

Hand Test, Grafis, dsb).

C.PERTIMBANGAN DALAM MEMILIH PSIKOTES

1.ORIENTASI TEORITIS

Klinisi harus mengetahui tentang konstruk

teori yang mendasari tes tersebut.

Bisa dilihat pada manual test.

4Jika dalam manual tidak terdapat informasi

yang cukup tentang hal tersebut, klinisi harus

mencarinya pada sumber lain.

Untuk melihat kesesuaian antara item tes

dengan konstruk, dapat dilakukan dengan

menganalisa tiap itemnya apakah sesuai

dengan konstruknya.

2.PERTIMBANGAN PRAKTIS

Penggunaan lebih berdasarkan

pertimbangan praktis daripada konstruk

teorinya.

Beberapa tes mempunyai durasi waktu yang

lama sehingga dapat menyebabkan kelelahan

dan frustrasi testee. Untuk itu, administrasi tes

dipersingkat (bukan yang berhubungan

dengan batas waktu yang digunakan).

3.STANDARDISASI

Ketepatan standardisasi sampel.

Tiap tes mempunyai norma yang

merefleksikan distribusi skor dari sampel yang

standar.

5Skor tes individu berarti bahwa terdapat

kesamaan antara individu yang dites dengan

sampel standar.

Testee dapat dibandingkan dengan sampel

jika terdapat kesamaan karakteristik, misal:

sampel adalah mahasiswa usia 18 25 tahun,

norma ini hanya bisa digunakan pada testee

yang mempunyai karakteristik sama seperti

sampel.

Standardisasi juga berlaku pada prosedur

administrasi baik pemberian instruksi serta

cara penyajian tes.

Prosedur administrasi harus sama antara

satu tester dengan tester yang lain.

Standardisasi juga meliputi pencahayaan,

setting, tanpa interupsi dan rapport yang baik.

4.RELIABILITAS

Mengacu kepada derajat stabilitas,

konsistensi dan ketepatan tes.

Skor yang didapat testee akan sama jika

individu tersebut dites lagi dengan tes yang

sama pada kesempatan yang berbeda.

6Perlu diperhatikan derajat error, misal: testee

salah mengerjakan tes, tester salah dalam

prosedur tes atau terjadi perubahan mood

testeed, dsb.

Jika derajat errornya besar maka hasil tes

tersebut kurang reliabel (kurang dapat

dipercaya).

Hal yang perlu diperhatikan:

a.Keragaman performance seseorang.

Pengukuran kepribadian

mempunyai variasi yang lebih besar

daripada pengukuran kemampuan

(ability).

Variabel ability (misal: intelegensi,

bakat) berubah secara perlahan dan

dipengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan.

Pada variabel kepribadian

perubahannya lebih besar salah satunya

dipengaruhi oleh mood.

b.Metode psikotes tidak bersifat pasti.

Ilmu eksak; peneliti bisa secara

pasti mengukur suatu variabel misalnya

7membandingkan berat badan seseorang

dengan yang lain, dsb.

Psikologi; seringkali berbagai

variabel diukur secara tidak langsung

misalnya: IQ tidak dapat ditentukan

secara langsung tapi diukur melalui

perilaku yang menunjukkan kecerdasan.

5.VALIDITAS

Mengacu kepada konsep apakah tes bisa

dengan tepat mengukur suatu variabel.

Tes yang valid harus mengukur dengan tepat

suatu variabel yang seharusnya diukur dan

dapat memberikan informasi yang bermanfaat

D.MEMILIH TES

Tes disesuaikan dengan kebutuhan untuk

menjawab permasalahan yang ada baik individu

atau kelompok. Misalnya klien depresi dites

dengan BDI (Becks Depression Inventory),

pasien di RS dites dengan MMPI (Minnesota

Multiphasic Personality Inventory).

Sesuai dengan pengalaman, kebiasaan

penggunaan dan kecenderungan klinisi. Klinisi

8yang familiar dengan TAT, Ro atau yang lain,

biasanya cenderung menggunakan tes tersebut

dalam asesmen yang dilakukannya.

Pertimbangan praktis baik waktu atau

ekonomis. Biasanya dilakukan pada proses

seleksi atau pada analisis singkat misal

screening pada pasien Rumah Sakit atau proses

rasionalisasi perusahaan.

Penggunaan Battery Test (terdiri dari

sekumpulan tes yang memberikan informasi

lebih banyak untuk asesmen). Jenis tes

disesuaikan dengan kebutuhan individu. Misal:

untuk keperluan klien yang datang dengan

keluhan bingung mencari pekerjaan maka tes

yang diberikan antara lain: WB, TAT, Ro, HTP,

DAP, Baum, Wartegg, RMIB.

Tujuan dari penggunaan battery test antara

lain:

Berfungsi sebagai pengecek apabila

terdapat salah satu hasil tes yang

menyimpang.

Untuk menjaring aspek-aspek yang lebih

luas baik kepribadian atau ability individu.

910

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>