Soal Tes Psikotes

PSIKOTES

Masih berkaitan dengan topic tulisan sebelumnya mengenai tips menghadapi psikotes nih, ayo kita kulik
lebih dalam lagi tentang apa sih psikotes itu.

Saya yakin pasti sudah pada gak asing dengan istilah PSIKOTES. Tapi apa pada tau gak apa itu psikotes?

Kalau menurut Jurnal yang saya baca, yang ditulis oleh Framingham, J. (2011) Psikotes adalah suatu tes
yang dirangkai oleh kombinasi dari beberapa teknik untuk membantu menggambarkan seseorang dan
juga perilaku, kepribadian, juga kemampuan yang dimiliki. Siapa saja yang berhak melakukan psikotes?
Tentu para psikolog yang sudah memiliki lisensi resmi keprofesiannya, atau psychology trainee dan ini
harus di bawah bimbingan psikolog resmi.

Siapa yang sudah pernah melakukan psikotes pasti sadar saat melakukan tes ada macam-macam model
dan rangkaian tesnya kan?

Ada beberapa komponen dari psikotes, saya kasih ulasan singkat yah:

1.Norm Referenced Tests
Tes ini sudah ada standard nya tersendiri. Sudah ada secara pasti aspek-aspek apa saja yang
mau dilihat dari tes yang akan diberikan, biasanya sih aspek yang ingin dilihat seputar
pengetahuan, skill, dan kepribadiannya. Tes ini memang sudah terkonsep karena hasil yang
diperoleh nanti mudah untuk dikomparasikan dengan hasil peserta tes lainnya.
Dalam perkembangannya kini tes ini sudah mampu mengupas lebih banyak aspek seperti
kemampuan aritmatika, berbahasa, kemampuan visual-motor, motoric kasar + motoric halus,
dsb.
Jadi kalau saat mengerjakan tes yang model seperti ini gak perlu ambil pusing soal kira-kira
aspek apa yang akan diukur, tapi kerjakan saja tesnya semaksimal mungkin.
2.Interviews
Nah ini gak kalah penting sama tes tertulisnya loh, interview ini juga diperlukan untuk lebih
menggali informasi-informasi spesifik dari seseorang. Interview bisa dilakukan sebelum atau
setelah tes tertulis. Biasanya meliputi pertanyaan tentang pribadi seeorang, pengalaman masa
kecil, aktivitas (bisa saat sekolah atau dalam pekerjaan), juga bisa meliputi sejarah dan latar
belakang keluarga.
3.Observations
Observasi ini biasa dilakukan untuk mendukung informasi-informasi yang sudah didapat dari tes
dan juga interview. Bisa membantu psikolog dalam melakukan penilaian dengan lebih baik.
Idealnya dilakukan di natural setting, kalau di dunia photography ini yang dikenal dengan candid
hihihihihi.
4.Informal AssessmentsTes ini relatif jarang digunakan, karena biasanya tes ini dilakukan jika terdapat keterbatasan
seseorang dalam mengerjakan tes formal. Karena sifatnya yang substitute dan komplementer
jadi penggunaannya harus lebih hati-hati karena bisa jadi validitasnya belum teruji secara ilmiah.

Psikolog mengumpulkan semua informasi berdasar komponen-komponen tersebut lalu dirangkai
menjadi suatu gambaran yang lengkap dan komprehensif mengenai seseorang yang telah melakukan
psikotes tersebut. Jadi perlu diingat bahwa rekomendasi yang dibuat berdasarkan psikotes tidak
terfokus hanya pada satu tes apalagi satu nomor tes. Seorang psikolog dalam membuat laporan hasil
pemeriksaan psikologis tidak terpaku hanya pada kelemahan seseorang namun juga pada kekuatan
orang tersebut.

Jadi apa masih mau percaya dengan trik-trik takhayul dalam mensiasati alat tes? Lebih baik
mempersiapkan kesehatan fisik dan mental agar saat mengerjakan tes bisa maksimal. Dan lirik lagi deh
postingan sebelumnya. Semoga bermanfaat ya.

SEMANGAT!!

Sumber: Framingham, J. (2011). What is Psychological Assessment?.Psych Central. Retrieved on July 16,
2013, from m/lib/2011/what-is-psychological-assessment/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>