Dan Soal Psikotes

Terlengkap, Terbaik, dan Terbukti Sukses di Indonesia

Kumpulan Terlengkap

CPNSONLINE INDONESIA

KisiKisiSOALCPNSBerstandarResmidariPemerintah

FORMOREINFORMATION:

WWW.CPNSONLINE.COM

MOHON PERHATIAN !!!

SEMUA SOAL-SOAL CPNSONLINE INDONESIA

AKAN KAMI SELALU UPDATE DAN REVISI

Apabila terdapat kekeliruan, kekhilafan, maupun kesalahan dalam

soal pertanyaan dan jawabannya. Kami akan segera merechek ulang

dengan bantuan tim ahli dengan pembahasan yang lebih rinci dan

mendetail. Jangan segan-segan mengirimkan email demi

kemaslahatan bersama dan kemanfatan ebook cpnsonline ini:

admin@cpnsonline.com

DAPATKAN INFO UPDATE CPNSONLINE




Wawancara dan Tes Psikologi (Psikotes)

Sumber: GloriaNet

Berbohong saat tes wawancara bukan hanya tak berguna, tapi juga bisa membuat Anda
tidak diterima. Lebih bijaksana bila pertanyaan dijawab apa adanya, spontan, langsung ke
pokok persoalan, tidak mengada-ada, tidak menggurui, dan sopan.

“Padahal tinggal wawancara lo, kok gagal. Dulu juga begitu, selalu kandas di tahap ini”.
Keluhan macam itu banyak kita dengar dari mereka yang tak lolos dalam wawancara
psikologi untuk melamar kerja. Sebuah kenyataan yang menyesakkan, apalagi
kebanyakan tahapan wawancara berada diakhir proses seleksi. Lolos di sini berarti si
calon diterima di tempat kerja yang baru.

Wawancara psikologi punya banyak makna. Ada beberapa versi, salah satunya, menurut
Bingham dan Moore, wawancara adalah “…conversation directed to define purpose
other than satisfaction in the conversation itself”. Sedangkan menurut Weiner, “The term
interview has a history of usage going back for centuries. It was used normally to
designate a face to face meeting of individual for a formal conference on some point.”

Dari kedua definisi itu didapatkan kondisi bahwa wawancara adalah pertemuan tatap
muka, dengan menggunakan cara lisan, dan mempunyai tujuan tertentu.

Jangan dibayangkan wawancara itu sama dengan interogasi karena tujuan utamanya
memang “berbeda”, meskipun sedikit serupa dalam hal menggali dan mencocokkan data.
Yang pasti, cara yang dipergunakan dalam kedua hal itu berlainan.

Interogasi lebih menekankan pada tercapainya tujuan, dengan berbagai cara dan akibat,
baik secara halus maupun kasar. Posisi interogator lebih tinggi dan bebas daripada yang
diinterogasi, serta lebih langsung.

Bandingkan dengan wawancara psikologi, di mana kedudukan antara pewawancara dan
yang diwawancarai relatif setara. Kondisinya pun berbeda, karena tidak ada penekanan
serta tidak menggunakan kekuasaan. Bahkan dalam kondisi ekstrem, seorang calon
karyawan yang diwawancarai bisa saja tidak menjawab, pewawancara pun tidak akan
memaksa. Namun, hal itu tentu akan sangat mempengaruhi penilaian dalam pengambilan
keputusan seorang psikolog.

Cocok berbobot

Wawancara dalam tes psikologi (psikotes) sebenarnya satu paket dengan tes tertulisnya.
Tes ini bertujuan mencari orang yang cocok dan pas, baik dari tingkat kecerdasan, serta
sifat dan kepribadian. Istilah kerennya mendapatkan “the right man in the right place”.Wawancara dan Tes Psikologi (Psikotes) 2

Cocok berbobot

Wawancara dalam tes psikologi (psikotes) sebenarnya satu paket dengan tes tertulisnya.
Tes ini bertujuan mencari orang yang cocok dan pas, baik dari tingkat kecerdasan, serta
sifat dan kepribadian. Istilah kerennya mendapatkan “the right man in the right place”.

Dasar pemikiran lain kenapa perlu diadakan seleksi, yaitu adanya perbedaan potensi yang
dimiliki setiap individu. Perbedaan itu akan menentukan pula perbedaan dalam pola pikir,
tingkah laku, minat, serta pandangannya terhadap sesuatu. Kondisi itu juga akan
berpengaruh terhadap hasil kerja. Bisa jadi suatu pekerjaan atau jabatan akan lebih
berhasil bila dikerjakan oleh individu yang mempunyai bakat serta kemampuan seperti
yang dituntut oleh persyaratan dari suatu pekerjaan atau jabatan itu sendiri.

Ada beberapa tujuan spesifik dari wawancara psikologi. Pertama, observasi. Dalam hal
ini calon kar-yawan dilihat dan dinilai. Mulai dari penampilan, sikap, cara menjawab
pertanyaan, postur – terutama untuk pekerjaan yang memang membutuhkannya, seperti
tentara, polisi, satpam, dan pramugari. Penilaian juga menyangkut bobot jawaban dan
kelancaran dalam menjawab.

Demikian pula perilaku dan sikap-sikap yang akan muncul secara spontan bila berada
dalam situasi yang baru dan mungkin menegangkan. Misalnya, mata berkedip-kedip atau
memutar jari-jemari yang dilakukan tanpa sadar.

Dalam hal bobot jawaban, misalnya, si calon bisa dinilai apakah ia memberikan jawaban
yang dangkal atau tidak, atau malah berbelit-belit. Jawaban berupa “Ingin naik pesawat”
atau “Ingin ke luar negeri” merupakan contoh jawaban yang dinilai dangkal atas
pertanyaan alasan menjadi pramugari.

Sedangkan kelancaran dalam menjawab biasanya dinilai dari berapa lama waktu yang
dibutuhkan oleh seorang calon karyawan untuk menjawab pertanyaan.

Dalam wawancara psikologi yang diperlukan sebenarnya jawaban spontan dan tidak
mengada-ada. Misalnya, apabila ditanya alamat, sebut saja alamat kita. Tidak usah
ditambah-tambahi atau malah berlagak sok pintar.

Tujuan berikutnya dalam tes wawancara adalah menggali data yang tidak didapatkan dari
tes tertulis. Misalnya, apakah istri bekerja, anak bersekolah di mana, masih tinggal
bersama orangtua atau tidak, serta apa judul skripsi dan berapa nilai yang didapat.

Yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi penilaian adalah kecocokan data.
Benarkah data yang ditulis oleh sang calon?

Atas dasar itu seorang psikolog sering melontarkan pertanyaan untuk menilai tingkat
pemahaman dan intelegensi si calon. Misalnya, calon mengaku berpendidikan S2, makadiajukan pertanyaan yang sesuai dengan tingkat pendidikan itu. Bila jawabannya kurang
bermutu, dapat saja diambil kesimpulan bahwa calon memiliki intelegensi yang kurang
atau dianggap tidak serius selama menjalani proses pendidikan.

Sering juga terjadi hasil tes tulis bagus, tapi hasil wawancaranya kurang meyakinkan. Hal
ini bisa terjadi karena mungkin ia telah beberapa kali mengikuti psikotes atau pernah
mengikuti bimbingan psikotes. Tes ulang dapat menjadi alat untuk mengatasi keraguan
itu.

Dalam konteks di atas, tidaklah mungkin seorang calon membohongi psikolog. Riskan
pula bila dia tidak menjawab dengan sebenarnya. Terbuka sudah kepribadiannya yang
tidak jujur, padahal kejujuran merupakan prasyarat penting untuk perusahaan.

Pada wawancara untuk evaluasi karyawan atau promosi jabatan biasanya data curiculum
vitae (CV) dari instansi atau perusahaan sudah diberikan semua dari Bagian Personalia.

Manfaat lain wawancara adalah melengkapi data yang terlupakan atau tidak tertulis
secara lengkap. Misalnya, sudah pernah mengalami psikotes atau belum. Kalau sudah,
berapa kali? Untuk apa? Lulus atau tidak? Mungkin juga minat ataupun gaji yang
diinginkan. Yang terakhir, manfaat wawancara yaitu untuk membuat keputusan.

Dari hasil pemeriksaan psikologi tertulis dan wawancara, dibuatlah kesimpulan, apakah
calon ini memenuhi syarat seperti job description yang diberikan oleh perusahaan atau
tidak.

Terkadang ada psikotes yang tidak menggunakan wawancara. Semua itu tergantung
tujuan pemeriksaan, ketersediaan data yang mungkin sudah lengkap, serta tidak begitu
mensyaratkan penampilan atau postur. Misalnya, bila yang diperlukan operator komputer,
yang pen
ting dia bisa komputer dan inteligensinya cukup.Wawancara dan Tes Psikologi (Psikotes) 3

Mengapa gagal?

Banyak calon karyawan gagal dalam psikotes, termasuk di dalamnya wawancara.
Mengapa?

Sesungguhnya, hasil pemeriksaan psikologi bersifat rahasia, dalam arti tidak setiap orang
dapat menerjemahkan dalam bahasa sehari-hari. Jadi, yang berhak adalah psikolog yang
berkompeten.

Hal itu berbeda dengan tes kesehatan, di mana jenis kegagalan dapat disebutkan dengan
jelas dan biasanya dapat pula dilihat. Sementara hasil psikotes masih merupakan data
kasar berupa angka-angka sehingga perlu dijelaskan dalam bahasa awam oleh psikolog,
untuk dijadikan data kualitatif.

Pada dasarnya psikotes bukan ujian. Psikotes tidak mengukur prestasi melainkan potensi
dasar setiap individu. Dalam tes prestasi ada materi yang dapat dipelajari, misalnya
bahasa Inggris. Bila seseorang mendapat nilai B dalam pelajaran itu, berarti penguasaan
materi Bahasa Inggrisnya baik.

Sedangkan psikotes mengukur potensi dasar yang dimiliki tiap individu. Seseorang yang
memang pada dasarnya cerdas, dites seperti apa pun tetap akan baik hasilnya. Asalkan
dia serius pada saat mengerjakan dan tidak terganggu konsentrasinya sehingga dapat
bekerja secara optimal.

Untuk mengurangi risiko gagal, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Yang pertama,
penampilan fisik. Perhatikan dengan saksama apalagi bila profesi yang akan dimasuki
mensyaratkan penampilan menarik – seperti pramugari, teller bank, atau sekretaris.
Sedangkan tentara/polisi lebih menitik-beratkan pada postur ideal antara tinggi dan bobot
badan, serta ada persyaratan minimal tinggi badan.

Perhatikan juga cara berpakaian, sebaiknya sesuaikan dengan situasi dan suasana.
Misalnya, dalam wawancara untuk calon pramugari sebaiknya tidak mengenakan pakaian
yang tidak selayaknya, seperti celana panjang berbahan jins. Atau menggunakan sepatu
sandal, meskipun sedang mode.

Kerapian dan kesopanan berpakaian juga dipertimbangkan. Misalnya, tidak mengenakan
kemeja yang lengan panjangnya dilipat, atau hanya mengenakan kaus, atau kemeja tidak
dimasukkan.

Sikap pun memberikan nilai penting. Yang dimaksud dengan sikap ialah bagaimana si
calon karyawan dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat. Sebaiknya bersikap
wajar saja, tidak dibuat-buat, tetapi juga tidak tegang atau gugup.Selain itu, biasanya dinilai pula kesopanan yang sesuai dengan norma. Misalnya, tidak
tampak menjilat, mengetuk pintu bila akan masuk ruangan, atau kalau belum dipersilakan
duduk, ya, jangan duduk dulu. Dalam menjawab pertanyaan tidak bertele-tele, langsung
pada inti masalah. Kemudian menjawab secara jujur, tidak perlu ditutup-tutupi. Misalnya,
pernah tidak naik kelas atau pernah gagal pada tes di perusahaan lain.

Selain itu, dalam menjawab tidak usah menggurui, meskipun si calon sudah memiliki
pendidikan yang cukup tinggi, pengalaman cukup banyak, atau dari segi usia lebih tua
daripada si pewawancara.

Jangan pula menjawab dengan sombong, misalnya mengaku sebagai atlet yang sudah
keliling ke banyak negara dan memiliki segudang prestasi. Bangga boleh-boleh saja,
tetapi kalau hasil psikologi tertulisnya kurang baik, tetap saja tidak lulus.

Yang tidak kalah penting, tidak usah bertanya. Meski merasa optimistis dengan hasil tes
tulis dan merasa bisa mengerjakan, calon tidak perlu bertanya mengenai hasilnya. Pada
dasarnya wawancara adalah tes juga sehingga hal ini akan mempengaruhi penilaian.
Selain itu, situasi yang dihadapi saat itu adalah situasi tes, bukan konsultasi psikologi.
Pertimbangkan pula banyak calon lain yang menunggu.

Umumnya, untuk memperoleh informasi penting dari calon karyawan digunakan metode
FACT, yaitu:

F: Feeling. Tentang apa yang dirasakan oleh orang itu. Ditanyakan minatnya,
gambaran pekerjaan, apakah juga sudah terbayang.

A: Action. Mengenai tindakan-tindakan apa yang telah dilakukan.

C: Condition. Kondisi/situasi/keadaan di mana kejadian itu berlangsung.

T: Thinking. Mengenai apa yang dipikirkan atau yang diinginkan oleh orang
pada saat itu.

Pemahaman yang lebih baik tentang wawancara psikologi akan membuat kita lebih
mudah mempersiapkan diri menghadapi jenis wawancara ini. Yang pasti, wawancara
psikologi tidak perlu ditakuti dan tidak bisa dibohongi. (GCM/is)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>